Monday, January 16, 2017

Foto Sd.Kfz.222 (Sonderkraftfahrzeug 222)

Diantara aset kendaraan bermotor pertama dari Leibstandarte SS Adolf Hitler dan SS-Verfügungstruppe (cikal bakal Divisi Das Reich) adalah Aufklärungstruppe (pasukan pengintai/pengamat). Banyak dari kader pertama unit ini yang mendapat pelatihan mereka dari sekolah-sekolah Heer (Angkatan Darat). Dalam foto ini kita bisa melihat seorang Aufklärer SS yang sedang dilatih menggunakan ranpur ringan Sd.Kfz.222, salah satu kendaraan yang tersedia dalam jumlah besar pada saat itu. Kita bisa mengatakan bahwa ini adalah salah satu foto awal Aufklärer SS karena seragam hitam Panzertruppen Heer hasil modifikasi yang dikenakannya (yang digunakan sebelum Perang Dunia II saat Waffen-SS masih belum memperkenalkan seragam panzer hitamnya sendiri). Topinya juga adalah topi hitam Allgemeine-SS hasil modifikasi, yang digunakan sebelum diperkenalkannya side cap khusus untuk SS-Verfügungstruppen dan Leibstandarte pada tahun 1938


Sumber :
Buku "Scouts Out: A History of German Armored Reconnaissance Units in World War II" karya Robert Edwards, Michael H. Pruett dan Michael Olive

Tank Desant (Infanteri Numpang di Panzer)

 Sebuah Panzerkampfwagen III Ausf.J terlihat dalam foto ini. Bagian samping kubahnya diperlebar dan dibor untuk dipasangkan kait-kait penarik, sementara lapisan baja dasarnya dipertebal menjadi 50mm. Perhatikan pula rantai-rantai roda cadangan yang digunakan untuk menutup setiap permukaan yang tersedia demi menambah perlindungan dari senjata anti-tank Soviet. Panzer ini tampaknya telah menemukan "kawan" di kalangan pasukan infanteri yang sangat menghargai kehadirannya di wilayah operasi mereka


  Panzerkampfwagen III Ausf.J ini bergerak menuju front pertempuran dengan membawa tidak kurang dari 20 orang prajurit infanteri diatasnya! Perhatikan jentera kemudi model baru (pertama diperkenalkan di Ausf.H), roda sekunder serta perpanjangan kubah, yang dibor untuk menempatkan kait-kait pengait. Terdapat pula lampu Notek yang terlihat di sela-sela prajurit yang duduk di dekat spatbor; perhatikan pula bahwa kedua bagian spatbornya tidak dilengkapi dengan lipatan plat anti lumpur. Foto ini diambil pada tanggal 21 Maret 1942 pada saat berlangsungnya Pertempuran Rzhev oleh Kriegsberichter Böhmer dari Propaganda-Kompanie (PK) 697


Sumber :
Buku "Panzer Vor: German Armor At War 1939-45" kaya Frank V. De Sisto
www.en.wikipedia.org

Wednesday, January 11, 2017

Program Jermanisasi dan Lebensborn (Benih Kehidupan)

 Reichsführer-SS Heinrich Himmler (kiri) bersama dengan seorang anak Ukraina yang akan dimasukkan ke Program Lebensborn. Foto diambil oleh Walter Frentz di Minsk (Belorusia) tanggal 15 Agustus 1941. Di sebelah kiri adalah SS-Obersturmführer Josef "Sepp" Kiermaier (supir pribadi sekaligus bodyguard Himmler), sementara di tengah berdiri SS-Gruppenführer Karl Wolff (Chef des Hauptamtes Persönlicher Stab Reichsführer-SS). Lebensborn (Benih Kehidupan) sendiri adalah program Nazi yang dicanangkan oleh Himmler untuk memberi perlindungan terhadap anak-anak yatim-piatu, janda tentara SS serta wanita yang hamil di luar nikah dengan cara menyediakan tempat pengasuhan untuk anak-anak mereka. Program ini secara ketat hanya memasukkan anak-anak yang dianggap "pantas" secara rasial. Lebih lengkapnya tentang Lebensborn bisa dilihat DISINI... eh, DISINI!


 Jermanisasi di Untersteiermark/Lower Styria (Yugoslavia): Para anggota Höhere SS- und Polizeiführer Alpenland memisahkan anak-anak dari ibu mereka yang menangis histeris di Celje - di halaman dari apa yang sekarang menjadi Sekolah Dasar I. Anak-anak ini nantinya akan dibawa secara paksa ke kamp-kamp di Jerman, dididik ulang, dan selanjutnya dibesarkan sebagai orang Jerman. Foto diambil pada bulan Agustus 1942 oleh Josip Pelikan


Sumber :
www.bandenkampf.blogspot.com

U-403

Setelah kesuksesan yang tidak terduga dari tahun-tahun pertama peperangan serta liputan propaganda secara meluas oleh media radio dan cetak, minat masyarakat Jerman terhadap satuan U-boat dan orang-orangnya menjadi bertambah besar dari waktu ke waktu. Pemerintahan Nasional-Sosialis (Nazi) lalu memanfaatkan minat semacam ini - dan juga entusiasme kaum mudanya - untuk menarik sukarelawan yang diperlukan. Bilamana memungkinkan, U-Bootwaffe mempersilakan warga sipil untuk mengakses kapal-kapal selamnya, sehingga remaja Jerman khususnya dapat melihat langsung apa yang sebelumnya hanya mereka ketahui melalui media. Selain itu, awak kapal yang sukses dalam patrolinya seringkali ditugaskan untuk mengunjungi kota sponsor mereka; dan kapten U-boat berkeliling negeri untuk berpidato di sekolah di hadapan para anggota belia Jungvolk serta Hitlerjugend. Pihak Kriegsmarine memanfaatkan setiap kesempatan yang tersedia untuk dapat memajang kapal-kapal selamnya di hadapan khalayak ramai. Salah satu kesempatan semacam itu adalah acara Zoppoter Woche (Minggu Zoppot) yang diselenggarakan pada musim panas tahun 1941. Zoppot adalah sebuah kota pantai di Teluk Danzig yang terkenal dengan fasilitas spa dan wisatanya. Zoppoter Woche sendiri digelar setiap tahun, dari pertengahan sampai akhir bulan Juli, dan merupakan perayaan olahraga besar dengan kompetisi kapal layar, balap kuda dan berenang. Selama seminggu penuh pusat-pusat keramaian kota spa tersebut disesaki oleh pengunjung. Salah satu lokasi yang tersedia adalah dermaganya, yang membentang sepanjang 500 meter sampai ke Teluk Danzig dan menawarkan pemandangan indah wilayah pantai serta Grand Hotel Zoppot pada para pengunjungnya. Grand Hotel sendiri pernah menjadi kediaman Adolf Hitler selama satu minggu saat berlangsungnya fase pembuka invasi Jerman atas Polandia beberapa bulan sebelumnya. Disanalah tepatnya, selama berlangsungnya perhelatan Zoppoter Woche di bulan Juli 1941, U-403 bersandar untuk menarik perhatian para pengunjung yang datang


 U-403 (kapal selam Tipe VIIC) mendapat penugasan pertamanya beberapa waktu sebelumnya, tanggal 25 Juni 1941. Menjadi bagian dari 5. U-Flottille dan dikomandani oleh Kapitänleutnant Heinz-Ehlert Clausen, kapal selam tersebut baru saja menyelesaikan UAK-Abnahme (Ujicoba Penerimaan UAK) pada tanggal 8 Juli 1941. U-403 langsung dikirim ke galangan kapal di Danzig untuk kelengkapan selanjutnya, termasuk pemasangan penahan angin di menara pengawas. Foto berwarna yang ditampilkan disini memperlihatkan dengan jelas emblem U-boat tersebut, yang merupakan Wappen (lambang) dari kota sponsor U-403, Halle an der Saale, dan menampilkan gambar matahari-bulan-bintang yang mirip-mirip simbol Islam. Emblem tersebut dipasang di kiri-kanan menara pengawas. Wappen ini telah dipasang dari sejak penugasan pertama di Danzig-Neufahrwasser.Gambarnya dicat di perisai metal yang kemudian dipasangkan di menara pengawas. Awak U-403 juga memakai emblem ini di topi mereka. Pada bulan Oktober 1941 U-403 menambahkan emblemnya sendiri, lalu pada musim semi tahun 1942 Wappen Halle dicopot dari kedua belah sisi menara pengawas sehingga hanya menyisakan emblem kapal. Di akhir bulan Oktober, U-403 telah menyelesaikan fase pelatihannya di AGRU-Front (juga pelatihan taktis dan persenjataan). Bukannya langsung bertugas ke front, kapal selam tersebut ditugaskan untuk menjadi kapal latihan bersama dengan 27. U-Flottille di Baltik, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan awak dan kaptennya. U-403 digunakan untuk melatih para calon komandan U-boat di Pillau dan Memel. Hari yang ditunggu-tunggu itu tiba ketika pada tanggal 23 Februari 1942 U-403 dipindahkan dari Kiel ke Helgoland, dimana dari sana dia melakukan sorti operasional pertamanya pada tanggal 1 Maret 1942. Kapitänleutnant Clausen menambatkan kapalnya di Narvik 19 hari kemudian. Di musim semi tahun 1943 U-403 telah menyelesaikan lima patroli tambahan dari pangkalannya di Norwegia. Pada tanggal 1 Juli 1942 dia berada di bawah komando 11. U-Flottille di Bergen yang baru dibentuk. Pada tanggal 1 Maret 1943 penugasannya dialihkan ke 9. U-Flottille di Brest. Satu hari kemudian U-403 tiba di pangkalan Angkatan Laut Jerman yang terletak di pantai Samudera Atlantik tersebut dari Trondheim. Di bawah Kapitänleutnant Clausen, U-403 melakukan patroli lainnya pada bulan April-Mei 1943. Meskipun pada bulan Mei 1943 jumlah kehilangan U-boat yang menjadi korban dalam pertempuran begitu besarnya, tapi Clausen berhasil membawa kapalnya kembali ke Brest. Tak lama kemudian terjadi perubahan komando kapal, kemungkinan karena Clausen dianggap tidak terlalu berhasil dalam masa penugasannya, dengan hanya mampu menenggelamkan dua buah kapal dengan total tonase 12.946 ton dalam tujuh patroli. Di bawah komandannya yang baru, Kapitänleutnant Karl-Franz Heine, U-403 berlayar dari Brest untuk melakukan patroli kedelapannya pada tanggal 13 Juli 1943. Pesan terakhir dari kapal tersebut diterima 10 hari kemudian, ketika dia melaporkan telah mendapat serangan udara di posisi 46 N 10 W. Tak ada pesan lagi yang diterima, sehingga kemudian Befehlshaber der Unterseeboote (BdU) menyimpulkan bahwa U-403 telah tenggelam oleh serangan udara pada tanggal 23 Juli. Karenanya, pada tanggal 27 Agustus 1943 kapal tersebut dinyatakan sebagai "x" (kemungkinan tenggelam), dan pada tanggal 18 Mei 1944 sebagai "xx" (hilang). Pada kenyataannya, U-403 telah selamat dari serangan tersebut. Ketiadaan pesan radio lanjutan kemungkinan besar dikarenakan peralatan radionya rusak dalam serangan tersebut. U-403 pada akhirnya tenggelam, tapi tidak sampai empat minggu kemudian pada tanggal 18 Agustus 1943 di dekat pantai Afrika Barat, setelah mendapat serangan pesawat Wellington dari Nr. 344 Squadron yang dipiloti oleh orang Prancis. Dari 50 orang awaknya, tak ada satu orangpun yang selamat. Ternyata, komandan baru U-403 tidak membawa keberuntungan bagi para awaknya...


 Komandan U-403, Kapitänleutnant Heinz-Ehlert Clausen, difoto di dermaga Teluk Danzig selama berlangsungnya Zoppoter Woche (Minggu Zoppot) di bulan Juli 1941. Kapal selamnya berada di kanan latar belakang. Di hari yang sama Clausen menggunakan kameranya untuk mengabadikan dua buah foto berwarna U-403 yang ikut ditampilkan disini. Kapitänleutnant Clausen (lahir tanggal 12 Juli 1909) selamat sampai dengan akhir perang dan meninggal pada tanggal 24 Maret 1987. Patroli perangnya hanya dijalani bersama dengan U-403 (7 patroli dan 191 hari di lautan), dengan dua kapal ditenggelamkan (total tonase 12.946 ton). Medali dan penghargaan yang diterimanya: Eisernes Kreuz II.Klasse (26 Mei 1940) und I.Klasse (4 Oktober 1942); Kriegsabzeichen für Minensuch-, U-Boot-Jagd- und Sicherungsverbände (23 Oktober 1941); U-Boots-Kriegsabzeichen (26 Februari 1942); serta Kriegsverdienstkreuz II.Klasse mit Schwertern (1 September 1944) 


Sumber :
Majalah "U-Boot im Focus" edisi no.5 - 2009

Tuesday, January 3, 2017

Foto 4. Torpedobootflottille

 Upacara penganugerahan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes untuk Korvettenkapitän Franz Kohlauf (Chef 4. Torpedobootflottille) yang diselenggarakan pada tanggal 29 Oktober 1943. Pada saat itu, 4. Torpedobootflottille terdiri dari beberapa buah Flottentorpedoboot 1939 (kapal torpedo dari kelas Elbing) berukuran besar. Di malam tanggal 22/23 Oktober 1943, Kohlauf memimpin lima buah Flottentorpedoboot 1939 (T-23, T-26, T-27, T-22 dan T-25) dalam pertempuran laut melawan kapal-kapal Inggris. Dalam aksi tersebut pihaknya berhasil menenggelamkan kapal penjelajah HMS Charybdis serta kapal perusak pengawal HMS Limbourne tanpa kehilangan satu kapal pun! Kohlauf sendiri (kelahiran 3 Desember 1910) adalah seorang komandan unit kapal torpedo Kriegsmarine yang telah kenyang makan asam-garam pertempuran dari sejak tahun 1939. Dia tercatat pernah menjadi kapten kapal Jaguar (April 1939 - Oktober 1939) dan Seeadler (November 1939 - Januari 1942). Kohlauf gugur saat kapalnya, Torpedoboot T-29, tenggelam di Teluk St. Malo (Prancis) pada tanggal 26 April 1944. Saat itu pangkatnya adalah Fregattenkapitän. Jenazahnya kemudian dikebumikan di Deutscher Soldatenfriedhof Ploudaniel-Lesneven (Plot 13, Baris 3, Kuburan No.91), yang menampung sekitar 5.831 prajurit Jerman yang meninggal di tanah Prancis dalam Perang Dunia II. Medali dan penghargaan lain yang telah diterima olehnya: Dienstauszeichnung der Wehrmacht IV.Klasse 4 jahre (1 April 1938); Spanienkreuz in Bronze mit Schwertern (6 Juni 1939); Eisernes Kreuz II.Klasse (6 Desember 1939) und I.Klasse (20 April 1940); serta Zerstörer-Kriegsabzeichen (30 Desember 1940)


Sumber :
www.militariarelics.com

Monday, January 2, 2017

Foto Hitam-Putih Koleksi Akira Takiguchi

Akira Takiguchi adalah seorang kolektor foto-foto Third Reich asal Jepang yang mengemuka karena kualitas koleksinya yang mengesankan, baik dalam masalah kualitas maupun karena kelangkaannya. Selain memiliki website sendiri di alamat www.history.jp, Akira San juga menjadi moderator di www.wehrmacht-awards.com.


Nachlass Kurt Krull / Reserve-Polizei-Bataillon 65 / Cholm 1942

Dalam Pengepungan Cholm (musim dingin 1941/42) di medan tempur Rusia, anggota-anggota polisi dari Polizei-Battailon 65 menderita kehilangan yang besar. Polisi di atas kemungkinan besar adalah pembawa makanan panas untuk prajurit di garis depan. Di lengannya terdapat pita bertuliskan "Deutsche Wehrmacht"

----------------------------------------------------------------------------

Nachlass Sonderführer Schödl / Dieppe 1942
 
Hasil akhir pendaratan amfibi Sekutu yang berujung kegagalan di Dieppe tanggal 19 Agustus 1942: Ketika sebuah bunker beton kokoh bahkan bobol begitu rupa! Di latar belakang adalah reruntuhan kasino Dieppe


Hasil akhir pendaratan amfibi Sekutu yang berujung kegagalan di Dieppe tanggal 19 Agustus 1942: Tank Churchill yang menjadi korban pertempuran sedang diinspeksi oleh pihak Jerman


Hasil akhir pendaratan amfibi Sekutu yang berujung kegagalan di Dieppe tanggal 19 Agustus 1942: Pihak Jerman merawat para korban yang terluka, yang kebanyakannya adalah prajurit Inggris dan Kanada yang notabene merupakan musuh mereka! Salah satu gambaran tindakan mulia dalam sebuah peperangan yang terkenal paling brutal dalam sejarah.. Perhatikan di salah satu foto, seorang wanita pembantu Prancis dari Palang Merah ikut menolong korban yang terluka 

 
Hasil akhir pendaratan amfibi Sekutu yang berujung kegagalan di Dieppe tanggal 19 Agustus 1942: Tampaknya para prajurit malang Sekutu ini HANCUR sebelum sempat keluar dari kapal pendaratnya, kemungkinan besar oleh hantaman artileri atau tembakan senapan mesin berat 

---------------------------------------------------------------------------- 

Nachlass Wolfgang Glaesemer / Panzergrenadier-Regiment 6 / 1942

 
Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi ini memperlihatkan Oberst Hasso von Manteuffel (tengah) berfoto bersama dengan para staff Panzergrenadier-Regiment 6 di tahun 1942. Manteuffel menjadi komandan resimen yang menjadi bagian dari 7. Panzer-Division ini periode 25 Agustus 1941 s/d 15 Juli 1942. Selanjutnya dia menjadi komandan 7. Panzergrenadier-Brigade (15 Juli 1942 - 4 November 1942) sebelum dipercaya menjadi komandan 7. Panzer-Division (20 Agustus 1943 - 1 Januari 1944)

---------------------------------------------------------------------------- 

Nachlass Wolf-Horst Hoppe / schwere Panzerjäger-Abteilung 519 / 1943-1944

Oberstleutnant Wolf-Horst Hoppe (2 Juli 1909 - 7 Juli 1997) adalah komandan schwere Panzerjäger-Abteilung 519 yang juga merupakan peraih Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes (15 Juli 1944) dan Deutsches Kreuz in Gold (16 Januari 1942). Dalam foto ini, Hoppe (masih berpangkat Major) tampak bertelekan wolchowstock, dan medali DKiG, Panzertruppenabzeichen der Legion Condor serta Spanienkreuz menyembul dari balik seragamnya (dua yang terakhir menandakan bahwa sang penerima adalah veteran perang saudara di Spanyol 1936-1939). Di belakangnya bertengger sebuah mobil staff Mercedes-Benz (jenisnya saya tidak tahu) yang di cat kamuflase putih musim dingin

---------------------------------------------------------------------------- 

Nachlass Erich Bärenfänger / 1943-1944

 Foto ini memperlihatkan Major Erich Bärenfänger (Kommandeur III.Bataillon / Grenadier-Regiment 123 / 50.Infanterie-Division) bersama dengan dua orang perwiranya sedang berbincang-bincang di dekat sebuah scherenfernrohr (teropong gunting) di wilayah Kaukasus akhir tahun 1943. Sebuah peta kecil diselipkan di manset lengan ledermantel (jaket kulit) yang dikenakan oleh sang Bataillonskommandeur (yang memakai einheitsfeldmütze M43 berhiaskan Totenkopf di kepalanya). Di sebelah kanan adalah Oberleutnant Ernst Mertens yang merupakan ajudan dari Bärenfänger. Mertens nantinya akan meraih Deutsches Kreuz in Gold tanggal 27 Januari 1944. Dalam foto ini, Bärenfänger dan Mertens sama-sama mengenakan Krimschild


Oberstleutnant Erich Bärenfänger bersama dengan istrinya yang cantik jelita Margot Rücker tak lama setelah pernikahan mereka yang dilangsungkan pada tanggal 28 Oktober 1944. Dalam Pertempuran di timur Berlin tahun 1945 Bärenfänger bertempur sementara istrinya selalu ada di sampingnya! Mereka adalah pasangan Nazi fanatik. Setelah kegagalan usaha untuk melarikan diri dari Berlin yang terkepung di malam tanggal 30 April/1 Mei 1945, dia dan istri serta saudaranya memutuskan untuk bunuh diri di ruang bawah tanah Schultheiss-Brauerei yang terletak di dekat U-Bahnhof Prenzlauer Berg pada tanggal 2 Mei 1945. BTW, kalau diperhatikan wajah istri Bärenfänger mirip banget dengan bintang film bokep eh India Aishwarya Rai! Selain itu, badan Bärenfänger yang tinggi besar kentara terlihat dalam foto ini, dimana meskipun ketiga orang lainnya berada di lantai yang satu tingkat lebih tinggi, mereka masih kalah jangkung dibandingkan dengan sang perwira Heer!


---------------------------------------------------------------------------- 

Nachlass Hauschild / 6.Panzer-Division / 1944

Seorang perwira dari 6. Panzer-Division bersama dengan sepedanya. Dia mengenakan kradmantel (jas hujan) yang biasa dipakai oleh pengendara sepeda motor

----------------------------------------------------------------------------

Nachlass Friedrich Sixt / 5.Jäger-Division / 1944

Foto koleksi pribadi Akira Takiguchi ini memperlihatkan Hauptmann Theodor Schulz (Kommandeur II.Bataillon / Jäger-Regiment 75 / 5.Jäger-Division) dipromosikan menjadi Major oleh Generalleutnant Friedrich Sixt (Kommandeur 5. Jäger-Division) tanggal 17 September 1944. Dari kiri ke kanan: Sixt, Major Dieter Keller (IIa Personalverwaltung 5. Jäger-Division) dan Hauptmann Schulz. Dalam foto ini kita bisa dengan jelas melihat Ehrenblattspange des Heeres (lingkaran merah) yang didapatkan Schulz tanggal 17 Februari 1944, sementara Deutsches Kreuz in Gold di dada kanan yang didapatkannya tanggal 3 Oktober 1942 tidak terlihat dalam foto ini

----------------------------------------------------------------------------


Sebuah truk ZIS-5 rampasan dari Rusia sedang mendapat perbaikan oleh para mekanik 58.Infanterie-Division. Lambang di spakbor yang dilingkari adalah lambang divisi tersebut. ZIS-5 sendiri merupakan truk dari jenis 4x2 yang diproduksi oleh pabrik ZIS Moskow dari sejak bulan Oktober 1933. Truk ini merupakan tiruan yang luar biasa serupa dengan Autocar Model CA Amerika. Di tengah keterbatasan suplai yang kronis, truk-truk rampasan jenis ini menjadi sesuatu yang sangat berharga dan karenanya perawatannya mendapatkan perhatian yang seksama


 Seorang penyelam dari TeNo (Technische Nothilfe) yang memperlihatkan lencana Taucher (penyelam) serta ärmelstreifen "Technische Nothilfe" di lengannya. Lencananya berwarna merah di atas dasar biru tua Kriegsmarine. TeNo didirikan pada tanggal 30 September 1919 oleh Otto Lummitzsch dengan tujuan untuk melindungi dan merawat fasilitas-fasilitas yang strategis dan vital (kilang minyak, pabrik gas, pembangkit listrik, kantor pos, jalan kereta api, produksi pertanian dan sebagainya). Pada masa Nazi Jerman (terutama setelah Perang Dunia II pecah), tugas TeNo lebih ke pertahanan sipil seperti penyelamatan dari serangan udara, penanggulangan bencana alam, dan tugas-tugas SAR (Search and Rescue)


Close-up dari shield lengan Legiun Turkistani Wehrmacht. Tulisan "Biz Alla Bilen" di shield tersebut artinya adalah "Kami Percaya Allah" (dalam bahasa Turki biasa disebut dengan "Biz Allah Bilenleriz")


kedua orang gadis kecil ini memakai schirmmütze (topi visor) dan knautschmütze (topi remas) Heer, tapi gadis tertua memegang belati SS atau SA (mungkin NPEA), sementara gadis yang lebih muda tampaknya memegang belati Reichsbahn atau bahkan belati DLV/NSFK model awal! Ini adalah dua tipe belati yang dilengkapi dengan bonggol dan tonjolan di gagangnya. Ayah mereka sendiri merupakan seorang perwira Heer yang berasal dari unit kavaleri


Seorang prajurit polisi dari I.Bataillon/Polizei-Regiment "Bozen" dengan bangga memamerkan Eisernes Kreuz II klasse yang baru diraihnya di depan kameraman, Juni 1944





 Tiga orang perwira schwere Panzerjäger-Abteilung 519 berfoto bersama di musim gugur 1944. Dari kiri ke kanan: Stabsarzt Dr. Günter Bruns, Oberleutnant der Reserve Julius Strehler (Adjutant schwere Panzerjäger-Abteilung 519), dan Leutnant Pfannkuche (gugur tanggal 20 November 1944). Bruns adalah perwira medis peraih Deutsches Kreuz in Silber (5 September 1944) sementara Strehler adalah peraih Deutsches Kreuz in Gold (2 Juli 1944)


Oberleutnant Guntram Gelferd (2 Februari 1918 - 12 September 1943) memulai karirnya di Panzer-regiment 35. Dia lalu dipindahkan ke unit artileri, pertama ke Artillerie-Lehr-Regiment "Jüterbog" lalu dilanjutkan ke Sturmgeschütz-Abteilung 185, Sturmgeschütz-Abteilung 189 ( tampaknya bersama dengan Fritz Scherer yang nantinya meraih Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes di StuG.Abt.189), dan Sturmgeschütz-Abteilung 244. Perwira kelahiran Hanau ini gugur dalam pertempuran di Troitzkoje, Rusia, tanggal 12 September 1943. Foto di atas memperlihatkan Gelferd sebagai Leutnant sedang nyengir sambil memakai fellmantel (jaket bulu), 24 Februari 1942


Hauptmann Erwin Kreßmann (lahir 2 Juni 1918) bertugas di Wehrmacht dari sejak tahun 1937. Dia adalah veteran pertempuran di Polandia, Prancis dan Rusia. Pada bulan Juli 1943 dia ditugaskan menjadi komandan kompi pertama dari schwere Panzerjäger-Abteilung 519 yang baru dibentuk, yang dilengkapi dengan Panzerjäger Hornisse yang menakutkan dengan meriam 88mm-nya. Pada tanggal 16 Januari 1944 Kreßmann dianugerahi Deutsches Kreuz in Gold yang dilanjutkan dengan Ritterkreuz des Eisernen Kreuzes beberapa bulan kemudian (9 Desember 1944). Pada awal bulan Mei 1945, tak lama setelah dia menghancurkan dua buah tank T-34 Rusia menggunakan T-Mine (Teller Mine), Kreßmann terluka parah oleh tembakan mortir. Dahsyatnya, dia masih sempat-sempatnya menyeberangi sungai Elbe untuk menyerahkan diri pada pihak Amerika! Kreßmann dilepaskan pada tahun 1946 dan sampai tulisan ini dibuat (September 2013), orang satu ini masih hidup!


 Major Armin Leistner dianugerahi Ehrenblattspange des Heeres und Waffen-SS tanggal 25 Oktober 1943 dan Deutsches Kreuz in Gold tanggal 2 Juli 1944, kedua-duanya saat bertugas sebagai Kommandeur schwere Heeres-Panzerjäger-Abteilung 661. Di tahun 1942/1943 dia bertugas di Stab Panzerjäger-Abteilung 17 dilanjutkan dengan Stab schwere Heeres-Panzerjäger-Abteilung A. Leistner dipromosikan sebagai Major tanggal 1 Mei 1943. Dalam "Rangliste des Deutschen Heeres 1944/45" dia tercatat bertugas di Panzergrenadier-Regiment 12 / 4.Panzer-Division


General der Kavallerie Edwin Graf von Rothkirch und Trach


 Oberleutnant der Reserve Julius Strehler mendapat Deutsches Kreuz in Gold tanggal 2 Juli 1944 sebagai ajudan komandan schwere Panzerjäger-Abteilung 519, Major Wolf-Horst Hoppe. Foto di atas memperlihatkan Strehler dalam pesta pernikahannya dimana dia memakai seragam parade Wehrmacht lengkap dengan adjutantschnur (tambang ajudan). Perhatikan bahwa posisi DKiG-nya lebih "merosot" dari biasanya. Ini kemungkinan untuk membuat dia tetap kelihatan tanpa harus tertutup posisi adjutantschnur yang berada di posisi normalnya!

Sumber :

Buku "Jejak Hitler di Indonesia" karya Horst Geerken


Penulis : Horst Henry Geerken
Penerbit : Kompas - Gramedia
ISBN : 978-602-412-175-4
Terbit pertama : Januari 2017
Ketebalan : 416 halaman
Ukuran : 15 x 23 cm
Berat : 1 kilogram
Sampul : Soft cover

Buku yang membahas tentang hubungan antara Nazi Jerman dengan Indonesia (juga Hindia Belanda) bisa dibilang masih sedikit jumlahnya dan, dari yang sedikit tersebut, buku ini bisa dibilang merupakan buku pertama yang ditulis oleh orang Jerman dan dibuat dengan menggunakan riset yang mendalam, baik di Indonesia maupun di Jerman.

Herr Geerken adalah sahabat saya yang biasa berkorespondensi melalui e-mail dari sejak beberapa tahun ke belakang, dan ketika beliau memberitahu bahwa saat ini sedang dalam proses penulisan buku tentang hubungan Soekarno dan Hitler, saya langsung merasa bla'em bla'em di sekujur tubuh. Sejak dari buku pertamanya yang diterbitkan disini, "A Magic Gecko: Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno", saya sudah merasa tertarik dengan hasil karyanya. Beliau telah dengan berbaik hati mengirimkan beberapa buah buku karangannya ke rumah - termasuk buku terakhir yang ditulisnya ini.

Buku ini sendiri diterbitkan dalam tiga bahasa: Jerman (Hitlers Griff nach Asien) - yang sangat detail dalam dua volume; Inggris (Hitler's Asian Adventure); dan Indonesia (Jejak Hitler di Indonesia). Untuk edisi bahasa Indonesia penerbitnya adalah PT. Kompas media Nusantara, dengan penterjemah Thomas Bambang Murtianto serta perancang sampul Wiko Haripahargio.

Banyak hal menarik yang diungkap dalam buku ini, dengan sebagiannya adalah fakta-fakta baru yang untuk pertama kalinya dipublikasikan. beberapa diantaranya adalah:
- Kedekatan Hitler dengan Walther Hewel yang memperkenalkannya pada Indonesia,
- Kisah Emil Helfferich dengan perkebunannya di Jawa dan Sumatera,
- Pelabuhan Sabang di Pulau Weh dan kapal selam Italia,
- Pianis Hitler asal Indonesia,
- Hubungan dagang antara Nazi Jerman dengan Hindia belanda,
- Orang Yahudi di Hindia Belanda,
- Sekolah Jerman di Jawa,
- Makam tentara Jerman di Jawa,
- Tokoh-tokoh Jerman yang terlibat dalam pembangunan Indonesia pasca kemerdekaan,
- Dan lain-lain

Perlu diketahui bahwa rencananya akan ada tiga seri buku ini yang diterbitkan, dengan seri selanjutnya di tahun-tahun mendatang.

Bagaimana? Sangat menarik bukan? Dapatkan bukunya di 150 toko buku Gramedia di seluruh Indonesia (dan juga di Kuala Lumpur) dengan harga Rp 119.000, atau bisa juga memesan langsung melalui email buku@kompas.com




Saturday, December 31, 2016

Foto Berwarna Koleksi Pribadi Akira Takiguchi

Akira Takiguchi adalah seorang kolektor foto-foto Third Reich asal Jepang yang mengemuka karena kualitas koleksinya yang mengesankan, baik dalam masalah kualitas maupun karena kelangkaannya. Selain memiliki website sendiri di alamat www.history.jp, Akira San juga menjadi moderator di www.wehrmacht-awards.com.


Sebuah foto berwarna langka yang memperlihatkan Panzer II dalam invasi Jerman ke Polandia (September 1939)


 Jenderal Erwin Rommel berbicara dengan seorang perwira Italia sekutunya di padang pasir Afrika Utara. Di tengah adalah Sonderführer Dr. Ernst Franz yang merupakan penterjemah Rommel. Franz mengingat bagaimana, setelah posisi pertahanan unit elit Bersaglieri diduduki oleh musuh, komandannya membela diri pada Rommel sambil memohon: "Percayalah padaku, anakbuahku bukanlah orang-orang pengecut." Dan Rommel menjawab: "Siapa yang mengatakan anakbuahmu pengecut? Atasanmu di Roma lah yang harusnya dipersalahkan! Mengirim kalian ke medan pertempuran dengan peralatan perang yang begitu buruk." (beberapa unit Italia dalam perang di Afrika dipersenjatai dengan meriam-meriam artileri hasil rampasan dari pasukan Austria dalam Perang Dunia Pertama, senjata yang bisa dibilang tidak berguna ketika menghadapi tank-tank lapis baja modern!)


 Anggota RAD (Reichsarbeitsdienst) sedang makan siang di sela-sela tugas mereka. Mereka mengenakan armband dengan tulisan "Deutsche Wehrmacht". Armband khusus ini biasanya dikenakan oleh orang-orang sipil yang bekerja untuk kepentingan Wehrmacht (Angkatan Bersenjata Jerman) di masa perang


 Leutnant (pangkat terakhir Oberleutnant) Eugen Kastner dari Grenadier-Regiment 316 / 212. Infanterie-Division di front Volkhov, Uni Soviet. Dia mengenakan jaket kamuflase bolak-balik musim dingin yang biasa disebut sebagai Umkehrbare Winteranzug (Winter Reversible Camo Parka), dengan bagian abu-abunya berada di luar sedangkan bagian putihnya di dalam. Di bagian lengan terjahit insignia pangkat yang biasa dinamakan sebagai tarn-dienstgradabzeichen. Tampaknya foto ini diambil saat Kastner akan melakukan patroli, yang terlihat dari peralatan ski yang dikenakannya serta senapan mesin MP40 (lengkap dengan kantong amunisi) yang tersampir di dadanya. Di latar belakang tampak jalan kereta api dengan bantalan kayu yang melewati belantara Volkhov. Tidak ada keterangan kapan foto ini diambil. Foto ini sendiri merupakan salah satu dari 500+ foto peninggalan Oberleutnant Kastner, dan sekarang menjadi koleksi pribadi Akira Takiguchi



Major Heinrich Gerlach (pilot pribadi Kommandierender-General XI. Fliegerkorps, Generaloberst Kurt Student) terkenal setelah menjadi pilot pesawat transport Fieseler Fi 156 "Storch" yang menerbangkan Benito Mussolini keluar dari lokasi penyekapannya di Gran Sasso bulan September 1943. Dalam foto berwarna yang menakjubkan koleksi Akira Takiguchi ini, Gerlach sedang "bermain-main" dengan seekor babi di kandangnya!


Generalmajor Alfred Erhard


 Generalmajor Erich von Falkenhayn


General der Fallschirmtruppe Eugen Meindl


  Generalleutnant Hermann-Meyer Rabingen berdiri di atas sebuah mobil staff Buick Special serie 60 (1938) model 66C Convertible Coupe empat penumpang buatan Amerika yang indah dengan plat nomor WH (Wehrmacht Heer) 707165, sementara supirnya berpose di samping. Dalam Perang Dunia II Wehrmacht menggunakan semua kendaraan yang tersedia, apapun jenisnya dan berasal dari mana, demi memenuhi kebutuhan mobil-mobil penumpang/staff mereka. Bisa dibilang semua mobil atau truk asal Amerika buatan tahun 1935-1941 dapat ditemukan dalam perbendaharaan kendaraan Jerman, di wilayah manapun mereka berada. Untuk pemakaian di luar medan tempur, maka mobil-mobil tersebut biasanya tetap memakai warna cat asli mereka atau ditutup oleh warna militer yang tersedia, sementara untuk bannya sendiri kebanyakan mobil yang tergolong mewah/lux mempunyai pelk atau dop putih yang kemudian ditimpah dengan warna apapun yang bisa digunakan saat itu


Sumber :
www.history.jp
www.wehrmacht-awards.com

Friday, December 30, 2016

Neo-Nazi Indonesia





Punya foto-foto yang memperlihatkan anda dengan simbol-simbol swastika/Nazi? Silakan kirimkan ke alifrafikkhan@gmail.com untuk menambah koleksi album ini!


Sumber :
www.facebook.com

Abu Bakar, Pianis Hitler Asal Indonesia


Pemimpin Nazi Jerman, Adolf Hitler, sering menggelar konser pribadi di rumah peristirahatannya di Berghof Obersalzberg (Münich, Jerman). Dia memiliki pianis, Ernst Hanfstaengl, anak dari Franz Hanfstaengl, seorang pengusaha penerbitan di Jerman dan Amerika Serikat, yang sering membantu keuangan Hitler (termasuk menerbitkan bukunya, Mein Kampf). Bahkan, Hitler dikabarkan menikahi anak perempuan Franz, Erna Hanfstaengl. Namun, Hitler membantah dan mengatakan “aku hanya kawin dengan seluruh rakyat Jerman!”

Ernst pernah belajar di Universitas Harvard dan berteman dengan Franklin D. Roosevelt. Mereka anggota New York Harvard Club. Ernst lulus kuliah tahun 1909 dan melanjutkan usaha ayahnya di Amerika Serikat. Dia menikah dengan Helene Niemeyer, seorang Amerika berdarah Jerman.

Pada 1919, Ernst kembali ke Jerman dan menjadi doktor ilmu filsafat dari Universitas München. Hitler menunjuk Ernst sebagai kepala Biro Pers Luar Negeri di Amerika karena relasinya yang bagus.

Namun, hubungan Ernst dengan Hitler kemudian retak. Dia berbeda pendapat dengan Menteri Propaganda Goebbels yang menceritakan hal-hal buruk tentang Ernst kepada Hitler. Puncak rusaknya hubungan mereka karena Unity Mitford, perempuan cantik teman dekat Hitler dan Goebbels. Setelah bercerai dengan Helene, Ernst mendekati Unity yang membuat Hitler tidak senang.

Merasa nyawanya terancam, Ernst lari ke Swiss kemudian ke Inggris. Ketika Perang Dunia II meletus, dia ditahan di Kanada. Pada 1942, dia dikirim ke Amerika atas permintaan pribadi Roosevelt. Dan Roosevelt mengangkatnya sebagai penasihat politik.

Siapa yang menggantikan Ernst sebagai pianis Hitler?

Dalam buku "Jejak Hitler di Indonesia" (2016), Horst H. Geerken mengungkap bahwa pianis pengganti Ernst adalah Abu Bakar dari Hindia Belanda (Indonesia). Sebelumnya, Geerken menulis pengalaman tinggal dan kerja di Indonesia selama 18 tahun dalam buku "A Magic Gecko".

Geerken mengetahuinya setelah mendapatkan informasi dari Iwan Ong Santosa, wartawan Kompas yang menekuni sejarah. Iwan dan ibunya menceritakan bahwa pada 1990-an mereka ingin membeli rumah di Bogor lalu ditawari sebuah rumah di Jalan Raya Bogor milik Abu Bakar yang berusia sekitar 80 tahun. Abu Bakar mengajar les piano dan biola.

“Tembok rumahnya tertutup oleh foto-foto dari guntingan koran berbahasa Jerman dan Indonesia yang memperlihatkan Abu Bakar sedang berpose bersama Hitler; dan Abu Bakar sedang memainkan piano dengan Hitler dan Eva Braun di dekatnya,” tulis Geerken.

Kendati gagal membeli rumah itu karena Abu Bakar memutuskan tidak mau menjualnya, Iwan mendapatkan kisah menarik sang pemilik rumah. Abu Bakar bercerita kepada Iwan dan ibunya bahwa dia pernah tinggal di Jerman tahun 1937 dan selama perang paling lama di paviliun tambahan di kediaman Hitler di Obersalzberg. Dia secara teratur pergi menghibur Hitler dan istrinya, Eva Braun, ketika mereka bersantai dengan mendengarkan musik di petang hari.

Bagaimana Abu Bakar bisa pergi ke Jerman? Menurut Geerken barangkali tidak akan pernah diperoleh jawaban yang pasti. “Dalam pikiran saya, kuncinya ada di Walther Hewel,” kata Geerken.

Sampai tahun 1936, Hewel tinggal di perkebunan Neglasari (Neglasari Estate Plantation), dekat Garut, Jawa Barat. Hewel juga penggemar berat musik klasik sebagaimana terlihat dalam catatan di buku hariannya. Dia mengenal Abu Bakar karena sering konser eksklusif di hadapan bos-bos perkebunan. Hewel kemungkinan mendengar kaburnya Ernst dan mengatur agar Abu Bakar bisa berangkat ke Jerman.

Abu Bakar kembali ke Indonesia setelah tahun 1950. Dia hidup membujang dan kesepian di usia tua. Dia menjual rumahnya pada 1994. Jejaknya lenyap seperti bekas rumahnya yang telah menjadi kebun penuh pepohonan.

Abu Bakar tidak mendapat kekayaan dari hasil bermusik bagi elite Nazi Jerman. “Namun, masa-masa berada dekat Hitler dan kalangan elitenya, membuat dia banyak dihormati orang di Bogor dan kisah-kisahnya tentang Hitler dan Obersalzberg selalu diterima baik oleh para tetanganya,” kata Geerken.


Sumber :